Laksamana Madya TNI Achmad Taufiqoerrochman

Lahir di Sukabumi, 18 Oktober 1961, penulis adalah alumnus Akademi Angkatan Laut (AAL) ke-30 tahun 1985. Pada 14 Juni 1996, ia mengomandani KRI Pulau Rani-701, jabatan pertamanya sebagai pemimpin.

Beberapa jabatan penulis jalani sebelumnya, yakni DPB Staf Operasi Markas Komando Armada Timur (1985), Asisten Perwira Divisi Navigasi KRI Fatahillah-361 (1985), Perwira Divisi Navigasi dan Komunikasi KRI Ajak-653 (1986), PS Perwira Divisi Navigasi KRI Fatahillah-361 (1986), Perwira Divisi Navigasi dan Komunikasi KRI Ajak-653 (1987).

Selanjutnya, DPB Pendidikan Spesialisasi Perwira Detasemen Markas Komando Armada Timur (1990), PS Kepala Departemen Operasi KRI Ajak-653 (1991), Kepala Sub Direktorat Pengendalian Divisi Latihan ASTT Departemen ASTT Pusat Latihan Elektronika dan Sistem Kendali Senjata Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI AL (1993), Kepala Departemen Operasi KRI Rencong-622 (1994), Perwira Pelaksana KRI Pati Unus-384 (1995).

Purna Komandan KRI Pulau Rani-701, Penulis sempat diamanahi jabatan Dik Seskoal DPB Detasemen Markas Komando Armada Timur (1997) dan Paopsjar Sekolah Lanjutan Perwira Pusat Pendidikan Operasi Laut Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI AL (1998), sebelum kembali mengomandani kapal perang, KRI Badik-623 (2000).

Setahun bertugas sebagai Kepala Jurusan Pelatihan Dep Prof Akademi Angkatan Laut (2002), Penulis lalu mengomandani KRI Karel Satsuit Tubun-356 (2003). Semasa ini, KRI Karel Satsuit Tubun-356 menjadi fregat pertama yang diaktifkan kembali setelah sepuluh tahun tidak beroperasi. Keberhasilan-nya membebaskan kapal MT Pematang milik Pertamina yang dibajak separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Selat Malaka diraih ketika itu.

Pada 2004, penulis berturut-turut menjabat Komandan Satuan Patroli Komando Armada Timur dan Kasubdis Pernika Dinas Komunikasi dan Elektronika TNI Angkatan Laut Markas Besar TNI AL. Setelahnya, Satuan Kapal Eskorta Komando Armada Timur dikomandani Penulis selama dua tahun (2005-2007). Masih di tahun 2007, Penulis menjabat Padiklat DPB Satuan Petugas Korvet Dinas Pengadaan Angkatan Laut Markas Besar Angkatan Laut.

Tahun 2008, Penulis adalah Staf Ahli Panglima ‘A’ Wilayah Nasional Komando Armada Timur, berlanjut dengan menjadi dosen Sekolah dan Staf Komando TNI, setahun kemudian (2009). Pada 2010, Penulis menjabat Komandan Komando Latihan Armada Timur.

Penulis menjadi Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada Barat pada 2011. Ia memimpin Satuan Tugas Duta Samudera untuk membebaskan kapal MV Sinar Kudus dari para perompak Somalia. Misi tuntas dan semua sandera selamat.

Februari 2012, penulis menjabat Wakil Gubernur Akademi Angkatan Laut, dan November 2013, ia dipercaya menjabat Kepala Staf Komando Armada Barat. April 2014, penulis memimpin Akademi Angkatan Laut sebagai Gubernur, dan mengubah banyak tatanan pendidikan angkatan laut menjadi lebih berkarakter. Hingga pada Oktober 2014, ia dilantik sebagai Koordinator Staf Ahli Kepala Staf Angkatan Laut.

Tanggal 6 Februari 2015, penulis menjabat Panglima Komando Armada Barat. Ketika itu, revitalisasi keamanan maritim untuk Perairan Natuna dan pembersihan Selat Malaka dari para perompak menjadi prioritas utamanya. Natuna kemudian menjadi sorotan publik nasional untuk dibangun sebagai halaman depan republik, sementara Selat Malaka terbukti terkendali, meski pernah dianggap sebagai perairan paling berbahaya di dunia.

Juni 2016, Penulis adalah Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Staf TNI Angkatan Laut. Dan sejak 18 Januari 2017, ia diamanahi menjabat Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Wakasal). Pembangunan pangkalan angkatan laut terpadu Teluk Ratai menjadi salah satu program utamanya.

Per November 2018, Penulis dipercaya mengepalai Badan Keamanan Laut (Bakamla). Ditengah kesibukannya berdinas, pada 2004, penulis dapat menyelesaikan pendidikan non-militernya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Wijaya Putra UWP Surabaya.

Pemahamannya akan sea power yang tidak hanya memerankan angkatan laut sebagai faktor penting, tapi juga kesejahteraan ekonomi sebuah negara, semakin menguat. Atas kontribusinya kepada bangsa dan negara, Penulis menerima berbagai tanda jasa. Di antaranya, Satyalancana Wira Karya untuk keberhasilan Satgas Duta Samudera, Satyalancana Wira Dharma untuk keberhasilan mengamankan perbatasan, serta Satyalancana Wira Nusa untuk darma bakti pengamanan pulau terluar.

Shopping Cart
Scroll to Top