Andy Firmansyah

Akrab dipanggil Andy atau Mas Andy. Lahir di Lhokseumawe, Aceh Utara, 22 Februari 1983, ia besar di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Sulung dari empat bersaudara, putra pasangan Bapak Syafri S. dan Ibu Juariah ini menyelesaikan pendidikan SD dan SMP di Tanjung Pinang, STM di Aceh, lalu berlanjut ke sekolah pelayaran di Semarang.

Pada 2003, penulis mulai bekerja sebagai pelaut di perusahaan kapal asing. Kerasnya arus pergaulan pelaut sempat membuatnya jatuh ke lembah dosa dan maksiat selama bertahun-tahun. Ia semakin jauh dari Allah.

Setelah menikah, penulis menetap di Kota Batam. Ia menikah dengan Rosmiati Lestari, seorang gadis mualaf. Penulis berusaha menjadi imam yang baik dan meninggalkan penyakit-penyakit lamanya sebagai pelaut. Tetapi, ia masih terjerat kesyirikan, sehingga semakin lama, hidupnya semakin tak bahagia.

Ketika lahir anak pertama, Ahmad Zaki, barulah penulis bertekad kuat untuk kembali ke jalan Allah dan meninggalkan segala kesyirikan. Ia yang dahulu suka mencari kesaktian dan hobi jimat-jimat, lalu bertauhidkan Allah.

Dengan niat karena Allah, diberilah ia hidayah oleh Allah. Pada 2013, beliau dipertemukan pada metode Dzikir Nafas yang berpusat di Padepokan Patrap Surakarta pimpinan Bapak Setiyo Purwanto yang sering disapa dengan panggilan akrab, Pak Pur.

Kepada Pak Pur, penulis banyak belajar dan menyerap ilmu cara berdzikir yang benar, cara berkomunikasi pada Al-Quran, sholat khusyuk, serta memahami segala kehendak atau ilham dari Allah. Semakin lama, hidup penulis semakin tertata dan bertakwa.

“Teruslah menulis dengan niat belajar,” pesan Pak Pur pada Penulis untuk belajar langsung kepada Allah.

Ketika penulis mematuhi pesan Pak Pur, ilmu Allah selalu mengalir setiap harinya. Dan ia banyak menuangkannya dalam tulisan. Berawal dari menulis di blog pribadi kata-andy.blogspot. com, penulis menuangkan segala pengalaman spiritualnya. Blog itulah diary spiritualnya. Ia terus menulis setiap harinya.

Tidak terasa, sudah ada ratusan tulisan. Sekarang, saatnya dibukukan. Semoga bermanfaat dan membuat pembaca terpanggil mendekat kepada Allah.

Saat ini, penulis tetap bekerja sebagai pelaut, serta dai yang menyebarkan metode Dzikir Nafas di media sosial, seperti Facebook dan Whatsapp. Ia membantu para jemaah yang baru belajar secara online. Apabila sedang berada di darat, ia akan berkumpul dengan sahabat-sahabat di Batam untuk mengaji bersama.

Penulis berterima kasih tak terhingga kepada Bapak Setiyo Purwanto, yang telah mengajar dan membimbingnya. Penulis selalu didorong untuk terus menulis dan bisa menghasilkan sebuah buku. Semua ini atas kehendak Allah semata. Sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Sesuatu yang tidak tahu menjadi tahu. Sesuatu yang tidak bisa menjadi bisa.

Penulis masih terus belajar kepada Allah bersama Pak Pur dan sahabat-sahabat seperjalanan. Ia terus mendakwahkan metode Dzikir Nafas.

Shopping Cart
Scroll to Top