Persamuhan di Banten: Reportase Setengah Dekade – Jilid I

Rp 87.000

Penulis : Ken Supriyono
Editor : Rahma Frida
Tahun Terbit : 2022
ISBN : 978-602-73748-8-1
Ukuran Buku : 14,5 x 20,5 cm
Jumlah Halaman : 232 Halaman
Kertas Kover : Ivory 260 gr, Full Colour, Laminasi Doff, Soft Cover
Kertas Isi : Book Paper 57 Gram
Finishing : Perfect Bending, Wrapping

Dalam berbagai catatan sejarah, baik yang ditulis oleh penulis lokal, nasional, maupun asing, pada abad ke-16 sampai dengan permulaan abad ke-18, Banten selalu disebut-sebut sebagai salah satu kesultanan Islam paling besar dan kuat di Nusantara. Willem Lodewijcksz, seorang berkebangsaan Belanda yang pernah mengunjungi Banten pada tahun 1596, menyebutkan kota pelabuhan Banten sebagai salah satu pusat perdagangan paling maju di Asia Tenggara karena para pedagang dari berbagai bangsa melakukan bisnis di daerah tersebut.

Provinsi yang terletak di ujung barat Pulau Jawa ini menjadi tempat tinggal bagi masyarakat suku Baduy yang terkenal menjunjung tinggi adat istiadatnya dan terbiasa hidup ramah dengan alamnya. Dalam ritual tahunan yang bernama Seba Baduy, senantiasa mereka sampaikan pesan mengenai pentingnya merawat dan melestarikan alam.

Disamping itu, masyarakat etnis Tionghoa di Banten juga telah tercatat keberadaannya sekira tahun 1595. Pada tahun-tahun tersebut, etnis Tionghoa memegang peranan kuat dalam kebijakan istana dan urusan perdagangan, sehingga dianggap sebagai penyambung kemakmuran Banten.

Sisi menarik Banten tentu menjadi suatu hal yang patut untuk dibahas dan dikupas lebih mendalam. Untuk itu, buku Persamuhan di Banten: Reportase Setengah Dekade dihadirkan dalam tiga bab sebagai upaya menilik kembali perjalanan dan eksistensi Banten di Nusantara, beserta seluk-beluk mengenai sejarah hingga keberagaman sosio-kultural masyarakatnya. Buku diharapkan dapat memberi kontribusi bagi kajiaan kedaerahan, serta turut melestarikan khazanah kebudayaan Banten beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Shopping Cart
Scroll to Top